News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
Badai Matahari Kembali Ancam Bumi
Kamis,2013-08-22,14:10:38

(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Matahari kembali melepaskan badai Matahari super besar pada Selasa pagi, 20 Agustus. Akibat dari badai Matahari itu akan mengancam Bumi. Sebab, awan besar yang terdiri dari partikel super panas sedang mengarah ke Bumi.
Melansir Space, 22 Agustus 2013, letusan Matahari yang dikenal dengan nama Coronal Mass Ejection (CME) itu terjadi pada pukul 04:20 waktu Amerika Serikat. Diperkirakan berton-ton partikel matahari itu menuju ke Bumi dengan kecepatan 3,3 juta km/jam.
""Berdasarkan pengamatan melalui Solar Terrestrial Relations Observatory milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), CME meninggalkan Matahari dengan kecepatan 570 mil per detik. Itu memang kecepatan rata-rata dari CME,"" kata salah satu pejabat NASA dalam keterangan tertulis.
Pesawat ruang angkasa milik NASA, Twin Stereo dan Solar Heliospheric Observatory, yang dikendalikan oleh NASA dan European Space Agency (ESA), berhasil menangkap gambar dari kejadian badai Matahari di ruang angkasa.
Pejabat NASA membenarkan, partikel-partikel CME memang mengarah ke Bumi, akan memakan waktu dua sampai tiga hari untuk sampai ke Bumi. Biasanya, partikel CME akan memicu badai geomagnetik, yang mengganggu komunikasi radio, sinyal GPS, dan jaringan listrik.
""Namun, badai Matahari tidak selalu berpotensi mengganggu. Di masa lalu juga pernah terjadi badai geomagnetik yang disebabkan oleh partikel CME, tapi kekuatannya tergolong ringan,"" jelas pejabat NASA itu.
Sementara para ahli dari laman SpaceWeather.com mengungkapkan, pada tanggal 17 Agustus lalu, badai Matahari juga terjadi dan memuntahkan CME ke Bumi. Namun, partikel itu hanya berada di awan Bumi dan menciptakan aurora, atau dikenal sebagai cahaya utara dan selatan.
""Tampilan aurora itu akan semakin meningkat pada malam dan besok, mengingat badai Matahari terjadi tanggal 20 Agustus silam. Tapi, kita harus tetap mewaspadai dampaknya,"" kata para ahli.
Saat ini, Matahari mencapai tahap puncak pada siklus 11 tahunan, atau dikenal sebagai Solar Cycle 24. Akibat dari badai Matahari yang terjadi cukup kuat pada tahun ini, akan mengakibatkan partikel CME dapat mempengaruhi cuaca di ruang angkasa."
Melansir Space, 22 Agustus 2013, letusan Matahari yang dikenal dengan nama Coronal Mass Ejection (CME) itu terjadi pada pukul 04:20 waktu Amerika Serikat. Diperkirakan berton-ton partikel matahari itu menuju ke Bumi dengan kecepatan 3,3 juta km/jam.
""Berdasarkan pengamatan melalui Solar Terrestrial Relations Observatory milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), CME meninggalkan Matahari dengan kecepatan 570 mil per detik. Itu memang kecepatan rata-rata dari CME,"" kata salah satu pejabat NASA dalam keterangan tertulis.
Pesawat ruang angkasa milik NASA, Twin Stereo dan Solar Heliospheric Observatory, yang dikendalikan oleh NASA dan European Space Agency (ESA), berhasil menangkap gambar dari kejadian badai Matahari di ruang angkasa.
Pejabat NASA membenarkan, partikel-partikel CME memang mengarah ke Bumi, akan memakan waktu dua sampai tiga hari untuk sampai ke Bumi. Biasanya, partikel CME akan memicu badai geomagnetik, yang mengganggu komunikasi radio, sinyal GPS, dan jaringan listrik.
""Namun, badai Matahari tidak selalu berpotensi mengganggu. Di masa lalu juga pernah terjadi badai geomagnetik yang disebabkan oleh partikel CME, tapi kekuatannya tergolong ringan,"" jelas pejabat NASA itu.
Sementara para ahli dari laman SpaceWeather.com mengungkapkan, pada tanggal 17 Agustus lalu, badai Matahari juga terjadi dan memuntahkan CME ke Bumi. Namun, partikel itu hanya berada di awan Bumi dan menciptakan aurora, atau dikenal sebagai cahaya utara dan selatan.
""Tampilan aurora itu akan semakin meningkat pada malam dan besok, mengingat badai Matahari terjadi tanggal 20 Agustus silam. Tapi, kita harus tetap mewaspadai dampaknya,"" kata para ahli.
Saat ini, Matahari mencapai tahap puncak pada siklus 11 tahunan, atau dikenal sebagai Solar Cycle 24. Akibat dari badai Matahari yang terjadi cukup kuat pada tahun ini, akan mengakibatkan partikel CME dapat mempengaruhi cuaca di ruang angkasa."
- 1Toyota Akhirnya Pamer C-HR, Si Penantang Honda HR-V
- 2Lulusan SD Ini Raih Puluhan Juta dari Jual Boneka
- 3Ancaman Serangan Militer Suriah Dorong Harga Emas Naik
- 4Istaka Yakin Jalan Layang Casablanca Rampung Oktober
- 5Harga Minyak Jatuh Karena Kekhawatiran atas Suriah Berkurang
- 6Upah Minimum 2014 Mengacu Dewan Pengupahan





