News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
Ilmuwan Bali Temukan Pompa Membran Pemurni Air
Kamis,2013-08-22,12:15:40

(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Ketekunan I Gede Wenten belajar paten sejak beberapa dekade lalu kini menuai hasilnya. Ya, dia adalah seorang penemu pompa tangan pemurni air dengan menggunakan teknologi membran.
Atas jasa teknologi yang sudah banyak membantu banyak kalangan, Wenten terpilih sebagai pemenang BJ Habibie Award 2013. Bagaimana kisahnya?
Setelah belajar Teknik Kimia di ITB pada 1987, Wenten berkisah semakin tertarik mendalami pelajaran teknologi. Kemudian ia melanjutkan studi di Denmark Technical University selama lima tahun, dari tahun 1990 sampai 1995.
Dari studinya di Eropa itu, Wenten telah mematenkan karya yang saat itu belum begitu populer di Eropa.
""Lalu, kemudian saya pulang ke Indonesia. Kondisi di sini untuk jadi ilmuwan agak susah, apalagi saya juga merasakan krisis moneter saat itu,"" kata pria kelahiran Bali, 15 Februari 1962 itu di Jakarta, 21 Agustus 2013.
Tapi, krisis tak membuatnya patah arang. Ia tetap gigih mengaplikasikan ilmunya dalam berbagai teknologi.
Sampai pada akhirnya ia menemukan pompa tangan pemurni air, IGW Emergency Pump. Pompa ini memurnikan air dengan teknologi membran sehingga menghilangkan kekeruhan, bakteri, alga, spora, sedimen, germ, sampai koloid.
""Teknologi ini saringannya ada di tingkat molekular. Hampir di semua industri butuh penerapan teknologi ini,"" jelas Wenten, satu-satunya ahli yang mengembangkan alat berbasis membran di Asia Tenggara.
Pompa buatanya itu bekerja layaknya pompa sepeda, hanya saja di dalamnya diisi filter membran, yaitu saringan halus yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop elektron.
Uniknya, pompa ini praktis, bekerja tanpa listrik, portable atau mudah dipindahkan, instalasi sederhana, dan ramah lingkungan. Di saat bencana, pompa ini sangat membantu korban dan volunteer ketika memurnikan air.
""Air yang dimurnikan bisa berasal dari mana saja, partikel gas bahkan air limbah sekalipun. Tapi, catatannya bukan limbah yang beracun, itu tidak disarankan,"" jelas pemilik 15 paten itu.
Pengaplikasian
Wenten mengaku pompa ini sudah diaplikasikan di tingkat rumahan. ""Sudah dipakai para ibu rumah tangga. Harganya 90 ribu rupiah saja,"" katanya. Untuk produk rumahan, ia mengaku sudah menjual puluhan ribu unit.
Pompanya itu juga bisa berharga miliaran, tergantung dari aplikasi yang diminta. Untuk harga yang premium, biasanya digunakan untuk kalangan industri besar.
Untuk di tingkat industri, teknologi membrannya sudah digunakan untuk pemurni minyak sayur (vegetable oil), meliputi kepala sawit, minyak matahari. Industri media juga memanfaatkan jasa teknologi ini untuk pemurni air bebas Pirogen.
""Inovasi butuh profesionalisme yang berbasis keilmuan. Bukan hanya euforia mematenkan produk saja, tapi juga ditambah bagaimana nilai kebaruan produk bernilai ekonomi,"" katanya."
Atas jasa teknologi yang sudah banyak membantu banyak kalangan, Wenten terpilih sebagai pemenang BJ Habibie Award 2013. Bagaimana kisahnya?
Setelah belajar Teknik Kimia di ITB pada 1987, Wenten berkisah semakin tertarik mendalami pelajaran teknologi. Kemudian ia melanjutkan studi di Denmark Technical University selama lima tahun, dari tahun 1990 sampai 1995.
Dari studinya di Eropa itu, Wenten telah mematenkan karya yang saat itu belum begitu populer di Eropa.
""Lalu, kemudian saya pulang ke Indonesia. Kondisi di sini untuk jadi ilmuwan agak susah, apalagi saya juga merasakan krisis moneter saat itu,"" kata pria kelahiran Bali, 15 Februari 1962 itu di Jakarta, 21 Agustus 2013.
Tapi, krisis tak membuatnya patah arang. Ia tetap gigih mengaplikasikan ilmunya dalam berbagai teknologi.
Sampai pada akhirnya ia menemukan pompa tangan pemurni air, IGW Emergency Pump. Pompa ini memurnikan air dengan teknologi membran sehingga menghilangkan kekeruhan, bakteri, alga, spora, sedimen, germ, sampai koloid.
""Teknologi ini saringannya ada di tingkat molekular. Hampir di semua industri butuh penerapan teknologi ini,"" jelas Wenten, satu-satunya ahli yang mengembangkan alat berbasis membran di Asia Tenggara.
Pompa buatanya itu bekerja layaknya pompa sepeda, hanya saja di dalamnya diisi filter membran, yaitu saringan halus yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop elektron.
Uniknya, pompa ini praktis, bekerja tanpa listrik, portable atau mudah dipindahkan, instalasi sederhana, dan ramah lingkungan. Di saat bencana, pompa ini sangat membantu korban dan volunteer ketika memurnikan air.
""Air yang dimurnikan bisa berasal dari mana saja, partikel gas bahkan air limbah sekalipun. Tapi, catatannya bukan limbah yang beracun, itu tidak disarankan,"" jelas pemilik 15 paten itu.
Pengaplikasian
Wenten mengaku pompa ini sudah diaplikasikan di tingkat rumahan. ""Sudah dipakai para ibu rumah tangga. Harganya 90 ribu rupiah saja,"" katanya. Untuk produk rumahan, ia mengaku sudah menjual puluhan ribu unit.
Pompanya itu juga bisa berharga miliaran, tergantung dari aplikasi yang diminta. Untuk harga yang premium, biasanya digunakan untuk kalangan industri besar.
Untuk di tingkat industri, teknologi membrannya sudah digunakan untuk pemurni minyak sayur (vegetable oil), meliputi kepala sawit, minyak matahari. Industri media juga memanfaatkan jasa teknologi ini untuk pemurni air bebas Pirogen.
""Inovasi butuh profesionalisme yang berbasis keilmuan. Bukan hanya euforia mematenkan produk saja, tapi juga ditambah bagaimana nilai kebaruan produk bernilai ekonomi,"" katanya."
- 1Toyota Akhirnya Pamer C-HR, Si Penantang Honda HR-V
- 2Lulusan SD Ini Raih Puluhan Juta dari Jual Boneka
- 3Ancaman Serangan Militer Suriah Dorong Harga Emas Naik
- 4Istaka Yakin Jalan Layang Casablanca Rampung Oktober
- 5Harga Minyak Jatuh Karena Kekhawatiran atas Suriah Berkurang
- 6Upah Minimum 2014 Mengacu Dewan Pengupahan





