News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
"Rupiah Anjlok, Harga Gadget Masih Adem Ayem"
Kamis,2013-08-22,09:41:52

(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat anjlok seiring merosotnya indeks harga saham gabungan. Sementara rata-rata produk elektronik yang berseliweran di Tanah Air berasal dari negara-negara tetangga alias impor. Sebut saja ponsel, komputer tablet, notebook, dan masih banyak lagi.
Lantas, bagaimana pengaruhnya?
Agustinus Sutandar, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) mengatakan, anjloknya nilai rupiah terhadap dolar AS tentu akan berdampak pada pasar elektronik konsumer.
""Penjualan dan volume ya pasti ada yang menurun. Tapi, itu belum terjadi. Masih terlalu dini. Kita lihat dulu bagaimana trennya (rupiah terhadap dolar),"" ujar Agustinus.
Tapi, lanjut dia, tidak semua produk elektronik mengikuti fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Beberapa distributor sudah menjalin kerja sama dengan importir memakai rupiah meski produk-produk tersebut adalah impor.
""Jadi, tidak langsung berpengaruh. Karena dari awal sudah menggunakan rupiah, bukan dolar. Kecuali kalau principal di Indonesia menaikkan harga, ya tentu para distributor tinggal menyesuaikan saja. Itu ada prosesnya, tidak langsung berubah,"" jelas Agustinus.
Hal itu diamini Djatmiko Wardoyo, Marketing & Communications Director Erajaya Group. Dia juga mengatakan dari 13 merek global yang ""diasuhnya"" di Indonesia, hanya beberapa vendor yang menggunakan dolar sebagai basis mata uangnya.
""Brand-brand besar rata-rata sudah memakai rupiah. Kita cukup berhubungan dengan representatif mereka di Indonesia. Kalau mereka naikkan harga, ya naik. Itu semua tergantung kebijakan mereka,"" jelas Djatmiko, yang enggan menyebutkan merek-merek yang menggunakan rupiah.
Bagaimana dengan produk-produk yang masih diimpor dengan nilai tukar dolar?
Koko —sapaan akrab Djatmiko— menjelaskan, tentu saja hal itu bisa berpengaruh pada harga produk di pasar. ""Tapi, biasanya kami meminta support mereka dalam bentuk subsidi. Karena jika mereka (vendor) menaikkan harga, sementara vendor lain tidak, kan mereka sendiri yang rugi,"" ungkapnya.
""Tapi, so far, harga di pasar masih normal. Silakan cek di gerai-gerai Erafone,"" tandas Koko.
Namun, dia mengatakan, apabila nilai tukar rupiah terhadap dolar terus anjlok, maka pasar ponsel akan mengalami imbas paling besar bagi Erajaya.
""90 Persen produk kami adalah ponsel, termasuk ponsel pintar dan ponsel fitur. Baru menyusul aksesori, serta kartu perdana dan pulsa operator,"" tuturnya.
Setali tiga uang. Agustinus pun meramalkan hal yang sama. ""Sekarang ini semua harga normal. Tapi, jika tidak ada perubahan alias terus anjlok, harga ponsel dan notebook yang paling terganggu. Karena volumenya paling besar di antara produk elektronik lain,"" tegasnya."
Lantas, bagaimana pengaruhnya?
Agustinus Sutandar, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) mengatakan, anjloknya nilai rupiah terhadap dolar AS tentu akan berdampak pada pasar elektronik konsumer.
""Penjualan dan volume ya pasti ada yang menurun. Tapi, itu belum terjadi. Masih terlalu dini. Kita lihat dulu bagaimana trennya (rupiah terhadap dolar),"" ujar Agustinus.
Tapi, lanjut dia, tidak semua produk elektronik mengikuti fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Beberapa distributor sudah menjalin kerja sama dengan importir memakai rupiah meski produk-produk tersebut adalah impor.
""Jadi, tidak langsung berpengaruh. Karena dari awal sudah menggunakan rupiah, bukan dolar. Kecuali kalau principal di Indonesia menaikkan harga, ya tentu para distributor tinggal menyesuaikan saja. Itu ada prosesnya, tidak langsung berubah,"" jelas Agustinus.
Hal itu diamini Djatmiko Wardoyo, Marketing & Communications Director Erajaya Group. Dia juga mengatakan dari 13 merek global yang ""diasuhnya"" di Indonesia, hanya beberapa vendor yang menggunakan dolar sebagai basis mata uangnya.
""Brand-brand besar rata-rata sudah memakai rupiah. Kita cukup berhubungan dengan representatif mereka di Indonesia. Kalau mereka naikkan harga, ya naik. Itu semua tergantung kebijakan mereka,"" jelas Djatmiko, yang enggan menyebutkan merek-merek yang menggunakan rupiah.
Bagaimana dengan produk-produk yang masih diimpor dengan nilai tukar dolar?
Koko —sapaan akrab Djatmiko— menjelaskan, tentu saja hal itu bisa berpengaruh pada harga produk di pasar. ""Tapi, biasanya kami meminta support mereka dalam bentuk subsidi. Karena jika mereka (vendor) menaikkan harga, sementara vendor lain tidak, kan mereka sendiri yang rugi,"" ungkapnya.
""Tapi, so far, harga di pasar masih normal. Silakan cek di gerai-gerai Erafone,"" tandas Koko.
Namun, dia mengatakan, apabila nilai tukar rupiah terhadap dolar terus anjlok, maka pasar ponsel akan mengalami imbas paling besar bagi Erajaya.
""90 Persen produk kami adalah ponsel, termasuk ponsel pintar dan ponsel fitur. Baru menyusul aksesori, serta kartu perdana dan pulsa operator,"" tuturnya.
Setali tiga uang. Agustinus pun meramalkan hal yang sama. ""Sekarang ini semua harga normal. Tapi, jika tidak ada perubahan alias terus anjlok, harga ponsel dan notebook yang paling terganggu. Karena volumenya paling besar di antara produk elektronik lain,"" tegasnya."
- 1Toyota Akhirnya Pamer C-HR, Si Penantang Honda HR-V
- 2Lulusan SD Ini Raih Puluhan Juta dari Jual Boneka
- 3Ancaman Serangan Militer Suriah Dorong Harga Emas Naik
- 4Istaka Yakin Jalan Layang Casablanca Rampung Oktober
- 5Harga Minyak Jatuh Karena Kekhawatiran atas Suriah Berkurang
- 6Upah Minimum 2014 Mengacu Dewan Pengupahan





