News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
"Registrasi Pelanggan Masih Asal-asalan, Apa Komentar Kominfo"
Selasa,2013-07-30,11:27:19
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Usulan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) untuk menaikkan harga kartu perdana masih menjadi perdebatan hangat di internal Kominfo.
Gatot S Dewa Broto, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo, Senin 29 Juli 2013, justru mempertanyakan dasar usulan BRTI tersebut.
""Jumlah 100 ribu, dari mana sumber angka ekonominya, hitungannya seperti apa. Kenapa tidak 70 ribu, 50 ribu, atau 20 ribu. Sebaiknya jangan pakai feeling saja. Apakah sudah melihat dampak sosialnya?"" tutur Gatot di kantornya, Jakarta.
Dengan usulan sebesar itu, katanya, masyarakat tentunya akan menilai bahwa sudah ada kenaikan tarif layanan telekomunikasi. Jadi memang harus butuh waktu lama untuk mengkaji usulan ini. ""Pengkajian formal dengan Kominfo saja belum,"" katanya.
Namun demikian, Gatot mengapresiasi semangat usulan itu dalam rangka menekan SMS spam. Tapi, menurutnya masih ada upaya lain yang bisa ditempuh Kominfo, yaitu ketentuan verifikasi pelanggan berdasarkan Permen Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 23 Tahun 2005 Tentang Registrasi Terhadap Pelanggan Jasa Telekomunikasi.
""Kami akui bahwa peraturan itu belum memberikan ketegasan soal verifikasi dan registrasi,"" tegas Gatot.
Dalam salah satu ketentuan peraturan itu, kata Gatot, terdapat ketentuan bahwa jika operator menemukan registrasi yang tidak valid, maka operator harus memblokir nomor tersebut. ""Tapi, ternyata itu tidak ditegaskan,"" katanya.
Untuk itu, pihaknya akan mempertegas ketentuan tata cara registrasi itu dengan sanksi. ""Sanksi diberikan pada operator nakal yang asal-asalan dalam registrasi,"" ujar Gatot.
Menurut data Kemenkominfo, saat ini jumlah nomor aktif di Indonesia mencapai 245 juta nomor. Dari jumlah tersebut, 99 persen merupakan nomor prabayar.
""Tapi, dari jumlah itu kami tidak mengetahui berapa yang registrasinya benar, dan berapa yang asal-asalan,"" tutupnya. "
Gatot S Dewa Broto, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo, Senin 29 Juli 2013, justru mempertanyakan dasar usulan BRTI tersebut.
""Jumlah 100 ribu, dari mana sumber angka ekonominya, hitungannya seperti apa. Kenapa tidak 70 ribu, 50 ribu, atau 20 ribu. Sebaiknya jangan pakai feeling saja. Apakah sudah melihat dampak sosialnya?"" tutur Gatot di kantornya, Jakarta.
Dengan usulan sebesar itu, katanya, masyarakat tentunya akan menilai bahwa sudah ada kenaikan tarif layanan telekomunikasi. Jadi memang harus butuh waktu lama untuk mengkaji usulan ini. ""Pengkajian formal dengan Kominfo saja belum,"" katanya.
Namun demikian, Gatot mengapresiasi semangat usulan itu dalam rangka menekan SMS spam. Tapi, menurutnya masih ada upaya lain yang bisa ditempuh Kominfo, yaitu ketentuan verifikasi pelanggan berdasarkan Permen Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 23 Tahun 2005 Tentang Registrasi Terhadap Pelanggan Jasa Telekomunikasi.
""Kami akui bahwa peraturan itu belum memberikan ketegasan soal verifikasi dan registrasi,"" tegas Gatot.
Dalam salah satu ketentuan peraturan itu, kata Gatot, terdapat ketentuan bahwa jika operator menemukan registrasi yang tidak valid, maka operator harus memblokir nomor tersebut. ""Tapi, ternyata itu tidak ditegaskan,"" katanya.
Untuk itu, pihaknya akan mempertegas ketentuan tata cara registrasi itu dengan sanksi. ""Sanksi diberikan pada operator nakal yang asal-asalan dalam registrasi,"" ujar Gatot.
Menurut data Kemenkominfo, saat ini jumlah nomor aktif di Indonesia mencapai 245 juta nomor. Dari jumlah tersebut, 99 persen merupakan nomor prabayar.
""Tapi, dari jumlah itu kami tidak mengetahui berapa yang registrasinya benar, dan berapa yang asal-asalan,"" tutupnya. "
- 1Toyota Akhirnya Pamer C-HR, Si Penantang Honda HR-V
- 2Lulusan SD Ini Raih Puluhan Juta dari Jual Boneka
- 3Ancaman Serangan Militer Suriah Dorong Harga Emas Naik
- 4Istaka Yakin Jalan Layang Casablanca Rampung Oktober
- 5Harga Minyak Jatuh Karena Kekhawatiran atas Suriah Berkurang
- 6Upah Minimum 2014 Mengacu Dewan Pengupahan





