News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
Facebook: Pemerintah di Dunia Minta 38.000 Data Pengguna
Rabu,2013-08-28,11:13:42

(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Facebook mengeluarkan laporan permintaan data pengguna oleh sejumlah pemerintah global. Disebutkan, dalam semester pertama tahun ini, jejaring sosial terpopuler itu mengaku telah menerima permintaan 38.000 data pengguna dari beberapa pemerintah.
Yang menarik, lebih dari setengahnya muncul dari pemerintah AS, seperti dilansir Guardian, 28 Agustus 2013. Laporan yang bertajuk 'Global Goverment Request Report' mencakupi data pengguna pada enam bulan pertama tahun ini, terhitung hingga 30 Juni silam.
Permintaan data itu merupakan bagian kerja sama Facebook dan pengawasan warga AS dan warga asing di AS yang dilakukan Badan Keamanan Nasional AS.
""Transparansi dan kepercayaan merupakan nilai inti di Facebook. Kami berusaha mewujudkan nilai itu dalam semua aspek layanan kami, termasuk pendekatan untuk menanggapi permintaan data oleh pemerintah,"" jelas Colin Stretch, Penasihat Umum Facebook dalam blog.
""Kami ingin memastikan orang-orang yang menggunakan layanan kami memahami sifat dan tingkat permintaan yang kami terima, kebijakan yang ketat, dan bagaimana proses kami menanganinya,"" tambah Stretch.
Laporan itu menunjukkan pemerintah AS mengajukan 11.000-12.000 permintaan informasi untuk 20.000-21.000 pengguna selama satu semester, atau yang terbesar dibandingkan permintaan negara-negara lain. Facebook memenuhi 79 persen dari permintaan itu.
Situs jejaring sosial asuhan Mark Zuckerberg itu berkomitmen memberi data yang menyangkut kepentingan investigatif, seputar kejahatan dan keamanan nasional.
""Kami terus mendorong pemerintah AS agar lebih terbuka soal permintaan, termasuk dalam membuka nomor tertentu dan jenis permintaan yang berkaitan dengan keamanan nasional,"" tegas Facebook.
Facebook dalam hal ini memastikan proses pemberian data pengguna yang ketat sudah mencakup perlindungan data pengguna.
Jejaring sosial yang berumur sembilan tahun ini juga meminta pemerintah AS benar-benar menerapkan aturan hukum yang ketat terkait informasi pengguna.
Turki, India, dan Inggris
Selain AS, menurut laporan ini, tercatat Turki merupakan negara yang gencar meminta data pengguna. Negera yang dipimpin Perdana Menteri Tayyip Erdogan ini dikabarkan telah mengirimkan 96 permintaan informasi untuk 170 pengguna. Facebook akhirnya memenuhi 47 persen permintaan itu.
India juga tercatat meminta informasi pengguna sebanyak 3.245 untuk 4.144 pengguna Facebook. Permintaan yang dikabulkan hanya 50 persen.
Sementara Inggris dilaporkan telah meminta rincian informasi untuk 2.337 pengguna, dan Facebook membeberkan 68 persen di antaranya."
Yang menarik, lebih dari setengahnya muncul dari pemerintah AS, seperti dilansir Guardian, 28 Agustus 2013. Laporan yang bertajuk 'Global Goverment Request Report' mencakupi data pengguna pada enam bulan pertama tahun ini, terhitung hingga 30 Juni silam.
Permintaan data itu merupakan bagian kerja sama Facebook dan pengawasan warga AS dan warga asing di AS yang dilakukan Badan Keamanan Nasional AS.
""Transparansi dan kepercayaan merupakan nilai inti di Facebook. Kami berusaha mewujudkan nilai itu dalam semua aspek layanan kami, termasuk pendekatan untuk menanggapi permintaan data oleh pemerintah,"" jelas Colin Stretch, Penasihat Umum Facebook dalam blog.
""Kami ingin memastikan orang-orang yang menggunakan layanan kami memahami sifat dan tingkat permintaan yang kami terima, kebijakan yang ketat, dan bagaimana proses kami menanganinya,"" tambah Stretch.
Laporan itu menunjukkan pemerintah AS mengajukan 11.000-12.000 permintaan informasi untuk 20.000-21.000 pengguna selama satu semester, atau yang terbesar dibandingkan permintaan negara-negara lain. Facebook memenuhi 79 persen dari permintaan itu.
Situs jejaring sosial asuhan Mark Zuckerberg itu berkomitmen memberi data yang menyangkut kepentingan investigatif, seputar kejahatan dan keamanan nasional.
""Kami terus mendorong pemerintah AS agar lebih terbuka soal permintaan, termasuk dalam membuka nomor tertentu dan jenis permintaan yang berkaitan dengan keamanan nasional,"" tegas Facebook.
Facebook dalam hal ini memastikan proses pemberian data pengguna yang ketat sudah mencakup perlindungan data pengguna.
Jejaring sosial yang berumur sembilan tahun ini juga meminta pemerintah AS benar-benar menerapkan aturan hukum yang ketat terkait informasi pengguna.
Turki, India, dan Inggris
Selain AS, menurut laporan ini, tercatat Turki merupakan negara yang gencar meminta data pengguna. Negera yang dipimpin Perdana Menteri Tayyip Erdogan ini dikabarkan telah mengirimkan 96 permintaan informasi untuk 170 pengguna. Facebook akhirnya memenuhi 47 persen permintaan itu.
India juga tercatat meminta informasi pengguna sebanyak 3.245 untuk 4.144 pengguna Facebook. Permintaan yang dikabulkan hanya 50 persen.
Sementara Inggris dilaporkan telah meminta rincian informasi untuk 2.337 pengguna, dan Facebook membeberkan 68 persen di antaranya."
- 1Toyota Akhirnya Pamer C-HR, Si Penantang Honda HR-V
- 2Lulusan SD Ini Raih Puluhan Juta dari Jual Boneka
- 3Ancaman Serangan Militer Suriah Dorong Harga Emas Naik
- 4Istaka Yakin Jalan Layang Casablanca Rampung Oktober
- 5Harga Minyak Jatuh Karena Kekhawatiran atas Suriah Berkurang
- 6Upah Minimum 2014 Mengacu Dewan Pengupahan





