News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
BI: Cadangan Devisa Masih Aman
Kamis,2013-08-29,16:40:27

Gubernur BI, Agus Martowardojo. | (VIVAnews/Adri Irianto)
(IANnews.id) (IANNnews) Jakarta - Bank Indonesia mewaspasai dampak gejolak ekonomi global yang sedang terjadi saat ini. Hal ini tercermin dari asumsi pergerakan nilai tukar di tahun 2014.
Gubernur BI Agus Martowardojo, Rabu 28 Agustus 2013, menyatakan, menurut perkiraan, nilai tukar rupiah di tahun 2014 akan berada di kisaran 10.500 hingga 10.800 terhadap dolar. Posisi nilai tukar ini sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia.
"Kami akan selalu berada di pasar untuk menjaga stabilisasi rupiah, kami yakini kurs selalu mencerminkan fundamental kita," ujar Agus di Gedung DPR RI Jakarta, Rabu 28 Agustus 2013.
Menurut Agus, cadangan devisa masih cukup untuk menjaga nilai tukar. Saat ini jumlah cadangan devisa bisa membiayai impor dan pembayaran utang negeri. Jumlah ini jauh kebih baik jika dibandingkan dengan tahun 2005-2008 di mana pada saat itu jumlah cadangan devisa hanya US$50 miliar.
"Jumlah cadangan devisa kita sekarang US$ 90 miliar, waktu tahun 2011 pernah diatas US$100 miliar," kata Agus.
Agus berpendapat jumlah cadangan devisa sangat tergantung dengan aliran kas yang masuk ke dalam negeri.
"Cadangan devisa sejalan dengan adanya capital inflow. Tahun 2009 hingga 2013 negara besar seperti Amerika alirkan dana ke semua emerging market, termasuk Indonesia. Masuk ke saham dan surat berharga negara, cadangan devisa pun meningkat," kata Agus.
Namun, rencana bank sentral AS untuk mengurangi stimulus moneternya bisa berdampak penarikan dana investasi di pasar negara berkembang dan pada akhirnya akan menguras cadangan devisa.
"Ketika ada tappering, cadangannya turun. Itu normal dan semua masih terkendali," kata Agus.
Gubernur BI Agus Martowardojo, Rabu 28 Agustus 2013, menyatakan, menurut perkiraan, nilai tukar rupiah di tahun 2014 akan berada di kisaran 10.500 hingga 10.800 terhadap dolar. Posisi nilai tukar ini sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia.
"Kami akan selalu berada di pasar untuk menjaga stabilisasi rupiah, kami yakini kurs selalu mencerminkan fundamental kita," ujar Agus di Gedung DPR RI Jakarta, Rabu 28 Agustus 2013.
Menurut Agus, cadangan devisa masih cukup untuk menjaga nilai tukar. Saat ini jumlah cadangan devisa bisa membiayai impor dan pembayaran utang negeri. Jumlah ini jauh kebih baik jika dibandingkan dengan tahun 2005-2008 di mana pada saat itu jumlah cadangan devisa hanya US$50 miliar.
"Jumlah cadangan devisa kita sekarang US$ 90 miliar, waktu tahun 2011 pernah diatas US$100 miliar," kata Agus.
Agus berpendapat jumlah cadangan devisa sangat tergantung dengan aliran kas yang masuk ke dalam negeri.
"Cadangan devisa sejalan dengan adanya capital inflow. Tahun 2009 hingga 2013 negara besar seperti Amerika alirkan dana ke semua emerging market, termasuk Indonesia. Masuk ke saham dan surat berharga negara, cadangan devisa pun meningkat," kata Agus.
Namun, rencana bank sentral AS untuk mengurangi stimulus moneternya bisa berdampak penarikan dana investasi di pasar negara berkembang dan pada akhirnya akan menguras cadangan devisa.
"Ketika ada tappering, cadangannya turun. Itu normal dan semua masih terkendali," kata Agus.
- 1Toyota Akhirnya Pamer C-HR, Si Penantang Honda HR-V
- 2Lulusan SD Ini Raih Puluhan Juta dari Jual Boneka
- 3Ancaman Serangan Militer Suriah Dorong Harga Emas Naik
- 4Istaka Yakin Jalan Layang Casablanca Rampung Oktober
- 5Harga Minyak Jatuh Karena Kekhawatiran atas Suriah Berkurang
- 6Upah Minimum 2014 Mengacu Dewan Pengupahan





