analyticstracking
Indonesia Archipelago Network News - IANnews.id

Meski Menguat, Rupiah Masih Dekati Level Rp12.000

Kamis,2013-08-29,16:29:02
(IANnews.id) (IANNnews) Jakarta - Mata uang rupiah masih bergerak liar terhadap dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan Kamis 29 Agustus 2013, rupiah sedikit menguat, meski masih di posisi yang mendekati level Rp12.000/dolar AS.

Berdasarkan data PT Bank Internasional Indonesia Tbk, kurs jual rupiah masih bercokol di level Rp11.900 per dolar AS dari perdagangan kemarin Rp12.000. Sedangkan, kurs beli hari ini Rp11.100 per dolar AS dari sebelumnya Rp11.300/dolar AS.

Di PT Bank Central Asia Tbk (BCA), kurs jual rupiah juga menguat karena berada di level Rp11.750 per dolar AS dari kemarin Rp11.800. Sedangkan kurs beli, bercokol di level Rp11.300 dari sebelumnya Rp11.250 per dolar AS.

Sedangkan menurut informasi valas PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), kurs jual rupiah kini berada di posisi Rp11.675 per dolar AS dan beli bertengger di level 11.175 per dolar AS. Kemarin, kurs jual rupiah dipatok Rp11.750 per dolar AS dan beli Rp11.250/dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan data transaksi aktual antar bank atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pagi tadi, rupiah berada di posisi Rp10.936 per dolar AS. Sehari sebelumnya, rupiah di level Rp10.950 per dolar AS.

Posisi ini hanya beda tipis dari data Reuters, di mana kurs jual rupiah ada di posisi Rp10.925 per dolar AS dan beli di level Rp10.900/dolar AS. Posisi jual tertinggi rupiah hari ini menembus level Rp10.930 per dolar AS.

Pengamat pasar uang, Farial Anwar mengungkapkan pelemahan rupiah memang tidak dapat dihindari. Bahkan, setelah Bank Indonesia bersama pemerintah mengeluarkan paket kebijakan, nilai tukar tetap merosot tajam.

"Paket empat kebijakan cocok untuk jangka panjang, tidak mudah mengurangi defisif current account dan penerapan bio fuel dalam waktu singkat," kata.

Selain itu, menurutnya, kebijakan lain seperti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) juga tidak menolong nilai tukar. Padahal, awalnya pemerintah optimistis kenaikan BBM akan memperkuat nilai tukar dan memperkecil transaksi neraca berjalan.

"BBM naik, maka rupiah akan kuat. Menurut saya itu mimpi, karena inflasi tinggi dan orang tidak tertarik untuk pegang rupiah. Suku bunga BI Rate naik untuk mengendalikan inflasi dan rupiah, tetapi justu malah jadi beban bank," tegasnya.

Untuk itu diperlukan sebuah kebijakan untuk jangka pendek. Salah satunya mengkaji lagi kebijakan devisa bebas. Ia menyarankan agar kebijakan tersebut direvisi agar mampu menahan eksportir untuk menahan dolarnya lebih lama di dalam negeri.

"Rezim devisa bebas kita biarkan, asing ke luar masuk. Kalau di negara lain tidak dibiarkan, ada holding period-nya, di tahan dulu untuk beberapa bulan," ujar Ferial.

Ferial menjelaskan, jika tidak ditahan, dana asing yang masuk sama dengan hot money (uang panas) yang bebas ke luar masuk dan mempengaruhi stabilitas perekonomian dalam negeri.

"Intinya, kami bukan anti asing, tetapi dana itu perlu ditahan beberapa waktu. Sebab, kalau tidak cadangan devisa semakin turun, dan ini yang jadi masalah," ungkapnya.
Lihat Juga Lowongan Kerja Terbaru:
jobs-to-success