News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
Benarkah Hujan Bisa Ganggu TV Satelit?
Rabu,2013-04-17,13:07:39
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Jika Anda berlangganan TV satelit, baik di rumah, di kantor, atau di rumah kost, tentu layanan bermasalah ketika hujan bukan sesuatu yang baru. Apalagi ketika hujan besar dengan halilintar yang bersahut-sahutan, layar TV bisa mendadak gelap. Semua saluran TV tidak bisa diakses.
Pertanyaannya, apakah hujan yang menjadi penyebab siaran TV satelit terganggu?
Jawabannya, ya. How It Works Daily melansir, TV satelit umumnya menggunakan frekuensi EM dalam jangkauan gelombang mikro.
Panjang gelombang itu antara satu milimeter ke satu meter dengan radio frekuensi antara 0.3 - 300 GigaHertz (GHz). Gelombang ini sangat mudah diserap oleh air. Dengan begitu, air hujan bisa mengurangi kekuatan sinyal atau siaran.
Tetapi, penyelenggara layanan TV satelit mensiasati gangguan uplink itu dengan memperbesar atau memperkuat gelombang mikro, juga menggunakan beberapa stasiun uplink di lokasi yang berbeda agar siaran TV tetap stabil, sehingga pelanggan tetap dapat menikmatinya.
Namun, ada kalanya siaran TV tetap mati ketika hujan besar mengguyur sekitar rumah pelanggan. Pasalnya, jika gelombang mikro dipaksakan menyala dengan jumlah besar, decoder atau alat penerima gelombang di rumah pelanggan tidak pasti kuat menerimanya. Risiko terburuk, alat decoder malah rusak dan tidak bisa digunakan lagi.
Di Indonesia, ada beberapa stasiun televisi berlangganan satelit yang populer, misalnya Indovision, Aora TV, Nexmedia, dan YesTV. Dahulu, sempat ada Astro yang cukup membumi. Namun, perusahaan asal Malaysia itu ditutup karena perseteruan antara pemilik saham Astro Malaysia dan Grup Lippo."
Pertanyaannya, apakah hujan yang menjadi penyebab siaran TV satelit terganggu?
Jawabannya, ya. How It Works Daily melansir, TV satelit umumnya menggunakan frekuensi EM dalam jangkauan gelombang mikro.
Panjang gelombang itu antara satu milimeter ke satu meter dengan radio frekuensi antara 0.3 - 300 GigaHertz (GHz). Gelombang ini sangat mudah diserap oleh air. Dengan begitu, air hujan bisa mengurangi kekuatan sinyal atau siaran.
Tetapi, penyelenggara layanan TV satelit mensiasati gangguan uplink itu dengan memperbesar atau memperkuat gelombang mikro, juga menggunakan beberapa stasiun uplink di lokasi yang berbeda agar siaran TV tetap stabil, sehingga pelanggan tetap dapat menikmatinya.
Namun, ada kalanya siaran TV tetap mati ketika hujan besar mengguyur sekitar rumah pelanggan. Pasalnya, jika gelombang mikro dipaksakan menyala dengan jumlah besar, decoder atau alat penerima gelombang di rumah pelanggan tidak pasti kuat menerimanya. Risiko terburuk, alat decoder malah rusak dan tidak bisa digunakan lagi.
Di Indonesia, ada beberapa stasiun televisi berlangganan satelit yang populer, misalnya Indovision, Aora TV, Nexmedia, dan YesTV. Dahulu, sempat ada Astro yang cukup membumi. Namun, perusahaan asal Malaysia itu ditutup karena perseteruan antara pemilik saham Astro Malaysia dan Grup Lippo."
- 1Toyota Akhirnya Pamer C-HR, Si Penantang Honda HR-V
- 2Lulusan SD Ini Raih Puluhan Juta dari Jual Boneka
- 3Ancaman Serangan Militer Suriah Dorong Harga Emas Naik
- 4Istaka Yakin Jalan Layang Casablanca Rampung Oktober
- 5Harga Minyak Jatuh Karena Kekhawatiran atas Suriah Berkurang
- 6Upah Minimum 2014 Mengacu Dewan Pengupahan





