News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
Studi: Percaya Azab Tuhan Bisa Ganggu Kejiwaan
Sabtu,2013-04-20,08:58:38
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Sebuah studi kontroversial Journal of Religion and Health, menyatakan terdapat hubungan antara kepercayaan pada amarah Tuhan dan penyakit mental.
Studi ini juga menyatakan orang-orang mempercayai kemarahan Tuhan atau dewa menampilkan tingkat gangguan mental yang lebih tinggi, seperti disfungsi sosial, paranoid penyakit gila karena ketakutan, obsesi dan paksaan, semua hal yang terkait dengan kecemasan.
Berdasarkan laporan The Examiner, Softpedia melansir, 19 April 2013, kesimpulan itu didapat oleh Profesor Nava Silton dari Marymount Manhattan College dan rekan-rekannya, setelah menganalisis data riset yang terkumpul dalam Baylor Religion Survey of US Adults tahun 2010.
Dalam penelitiannya, Profesor Nava Silton memfokuskan pada tiga kategori dari keyakinan orang, yaitu orang meyakini kemarahan Tuhan, orang yang meyakini kasih sayang Tuhan dan dewa, serta orang yang meyakini bahwa Tuhan adalah entitas netral.
""Ketiganya diuji secara terpisah dalam model regresi kuadrat terkecil biasa (ordinary least squares/OLS) untuk memprediksi lima kelas gejala kejiwaan,"" demikian abstraksi yang tertulis pada studi ini. Lima kelas itu yaitu kecemasan umum, kecemasan sosial, paranoid, obsesi, dan paksaan.
Hasil studi menyebutkan, keyakinan terhadap hukuman Tuhan berpotensi secara positif mengakibatkan empat gejala kejiwaan atau mental, yaitu mengendalikan karakteristik demografi, keagamaan, dan kekuatan keyakinan akan Tuhan atau kadar taqwa.
Sebaliknya, kepercayaan atas kebajikan Tuhan secara negatif menunjukkan empat gejala kejiwaan tersebut.
Hubungan antara kepercayaan amarah Tuhan dan penyakit mental dipelajari dalam konteks Evolutionary Threat Assessment System Theory, yang menyatakan bahwa gangguan kecemasan adalah hasil dari penafsiran kurang tepat oleh otak terhadap ancaman.
Profesor Nava Silton menekankan, fakta bahwa penelitiannya tidak membangun sebab akibat antara kepercayaan amarah Tuhan dan gangguan kecemasan.
Justru sebaliknya, studi ini semata-mata mengajak berpikir (pin down) lebih jauh tentang korelasi antara keduanya.
""Kami tidak mengatakan sebuah keyakinan menyebabkan gejala gangguan mental atau kejiwaan, tapi kami melihat hubungan antara keyakinan dan gejala kejiwaan,"" tegas Profesor Silton. "
Studi ini juga menyatakan orang-orang mempercayai kemarahan Tuhan atau dewa menampilkan tingkat gangguan mental yang lebih tinggi, seperti disfungsi sosial, paranoid penyakit gila karena ketakutan, obsesi dan paksaan, semua hal yang terkait dengan kecemasan.
Berdasarkan laporan The Examiner, Softpedia melansir, 19 April 2013, kesimpulan itu didapat oleh Profesor Nava Silton dari Marymount Manhattan College dan rekan-rekannya, setelah menganalisis data riset yang terkumpul dalam Baylor Religion Survey of US Adults tahun 2010.
Dalam penelitiannya, Profesor Nava Silton memfokuskan pada tiga kategori dari keyakinan orang, yaitu orang meyakini kemarahan Tuhan, orang yang meyakini kasih sayang Tuhan dan dewa, serta orang yang meyakini bahwa Tuhan adalah entitas netral.
""Ketiganya diuji secara terpisah dalam model regresi kuadrat terkecil biasa (ordinary least squares/OLS) untuk memprediksi lima kelas gejala kejiwaan,"" demikian abstraksi yang tertulis pada studi ini. Lima kelas itu yaitu kecemasan umum, kecemasan sosial, paranoid, obsesi, dan paksaan.
Hasil studi menyebutkan, keyakinan terhadap hukuman Tuhan berpotensi secara positif mengakibatkan empat gejala kejiwaan atau mental, yaitu mengendalikan karakteristik demografi, keagamaan, dan kekuatan keyakinan akan Tuhan atau kadar taqwa.
Sebaliknya, kepercayaan atas kebajikan Tuhan secara negatif menunjukkan empat gejala kejiwaan tersebut.
Hubungan antara kepercayaan amarah Tuhan dan penyakit mental dipelajari dalam konteks Evolutionary Threat Assessment System Theory, yang menyatakan bahwa gangguan kecemasan adalah hasil dari penafsiran kurang tepat oleh otak terhadap ancaman.
Profesor Nava Silton menekankan, fakta bahwa penelitiannya tidak membangun sebab akibat antara kepercayaan amarah Tuhan dan gangguan kecemasan.
Justru sebaliknya, studi ini semata-mata mengajak berpikir (pin down) lebih jauh tentang korelasi antara keduanya.
""Kami tidak mengatakan sebuah keyakinan menyebabkan gejala gangguan mental atau kejiwaan, tapi kami melihat hubungan antara keyakinan dan gejala kejiwaan,"" tegas Profesor Silton. "
- 1Toyota Akhirnya Pamer C-HR, Si Penantang Honda HR-V
- 2Lulusan SD Ini Raih Puluhan Juta dari Jual Boneka
- 3Ancaman Serangan Militer Suriah Dorong Harga Emas Naik
- 4Istaka Yakin Jalan Layang Casablanca Rampung Oktober
- 5Harga Minyak Jatuh Karena Kekhawatiran atas Suriah Berkurang
- 6Upah Minimum 2014 Mengacu Dewan Pengupahan





