News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
Rompi Ini Bisa Jadi Tukang Pijat Pribadi
Jumat,2013-06-07,16:48:54
(IANnews.id) "
(IANNnews) Yogyakarta - Selama ini, rompi hanya digunakan untuk melindungi bagian dada saat berkendaraan atau sebagai penghangat tubuh ketika cuaca dingin. Namun, di tangan mahasiswa UGM, rombi diubah menjadi alat pijat.
Rompi yang berbahan parasit tersebut terpasang delapan unit pijat (trigger point) getaran mekanis. Masing-masing unit pijat dilengkapi enam titik infra merah untuk relaksasi otot punggung.
Tingkat kecepatan getaran hingga 900 rpm bisa diatur lewat unit kontrol yang dipasang pada kantong depan rompi.
""Berat rompi hanya satu kilogram, dan menggunakan baterai Lithium 9,7 volt,"" kata Aris Prayitno, mahasiswa Teknik Mesin UGM angkatan 2010, Jumat 7 Juni 2013.
Aris menceritakan, rompi pijat ini memadukan ilmu teknik, sains dan kedokteran sehingga menghasilkan produk kesehatan portabel yang sengaja dirancang mengatasi pegal linu secara praktis.
""Rompi ini bisa dipakai relatif cukup lama, hingga 20-30 menit,"" jelasnya
Aris mengaku, tim membutuhkan waktu empat bulan untuk mengembangkan rompi pijat ini. Saat awal proses pembuatan, ia sempat kesulitan mencari motor getar untuk dipasang di rompi.
Mujur, ia seketika mendapat ide menggunakan motor berbandul dari stik atau controller PlayStation bekas. Sedangkan, unit pijat, ia memakai keset pijat refleksi.
""Sebelum jadi seperti ini, saya sudah empat kali gagal. Trial and error terus,"" paparnya.
Rp2 Juta
Selain praktis dan bisa dibawa ke mana-mana, rompi yang dibuat dengan biaya Rp2 juta ini diakui Aris memiliki tingkat keamanan yang baik. Pasalnya, rompi menggunakan arus DC yang tidak terlalu kuat, cukup dengan baterai 9,7 Volt.
""Kita sudah berkonsutasi dengan dosen. Rompi ini tidak menimbulkan setrum,"" ujarnya.
Selain Aris, desain rompi pijat ini juga melibatkan dua mahasiswa lain, yaitu Syifa Salma dan Hilma Tsurayya dari Fakultas Kedokteran, dibantu Agus Budiman, seorang mahasiswa prodi D3 Elektronika dan Instrumentasi, Sekolah Vokasi.
Syifa Salma menuturkan, penentuan titik lokasi pemasangan unit pijat tidak dilakukan sembarang, melainkan berdasarkan hasil anatomi letak posisi saraf, otot, dan pembuluh darah di daerah punggung,
”Jadi, pemilihan lokasinya dijadikan sebagai titik refleksi,"" katanya.
Sedangkan, keberadaan sinar infra merah menimbulkan rasa hangat sehingga bisa melenturkan jaringan kolagen kulit, di samping memicu hormon endorpin yang bisa mengurangi rasa nyeri.
""Nyeri di punggung akibat akibat pengumpulan asam laktat, bila asam laktat terurai, rasa nyeri berurang,"" katanya. "
Rompi yang berbahan parasit tersebut terpasang delapan unit pijat (trigger point) getaran mekanis. Masing-masing unit pijat dilengkapi enam titik infra merah untuk relaksasi otot punggung.
Tingkat kecepatan getaran hingga 900 rpm bisa diatur lewat unit kontrol yang dipasang pada kantong depan rompi.
""Berat rompi hanya satu kilogram, dan menggunakan baterai Lithium 9,7 volt,"" kata Aris Prayitno, mahasiswa Teknik Mesin UGM angkatan 2010, Jumat 7 Juni 2013.
Aris menceritakan, rompi pijat ini memadukan ilmu teknik, sains dan kedokteran sehingga menghasilkan produk kesehatan portabel yang sengaja dirancang mengatasi pegal linu secara praktis.
""Rompi ini bisa dipakai relatif cukup lama, hingga 20-30 menit,"" jelasnya
Aris mengaku, tim membutuhkan waktu empat bulan untuk mengembangkan rompi pijat ini. Saat awal proses pembuatan, ia sempat kesulitan mencari motor getar untuk dipasang di rompi.
Mujur, ia seketika mendapat ide menggunakan motor berbandul dari stik atau controller PlayStation bekas. Sedangkan, unit pijat, ia memakai keset pijat refleksi.
""Sebelum jadi seperti ini, saya sudah empat kali gagal. Trial and error terus,"" paparnya.
Rp2 Juta
Selain praktis dan bisa dibawa ke mana-mana, rompi yang dibuat dengan biaya Rp2 juta ini diakui Aris memiliki tingkat keamanan yang baik. Pasalnya, rompi menggunakan arus DC yang tidak terlalu kuat, cukup dengan baterai 9,7 Volt.
""Kita sudah berkonsutasi dengan dosen. Rompi ini tidak menimbulkan setrum,"" ujarnya.
Selain Aris, desain rompi pijat ini juga melibatkan dua mahasiswa lain, yaitu Syifa Salma dan Hilma Tsurayya dari Fakultas Kedokteran, dibantu Agus Budiman, seorang mahasiswa prodi D3 Elektronika dan Instrumentasi, Sekolah Vokasi.
Syifa Salma menuturkan, penentuan titik lokasi pemasangan unit pijat tidak dilakukan sembarang, melainkan berdasarkan hasil anatomi letak posisi saraf, otot, dan pembuluh darah di daerah punggung,
”Jadi, pemilihan lokasinya dijadikan sebagai titik refleksi,"" katanya.
Sedangkan, keberadaan sinar infra merah menimbulkan rasa hangat sehingga bisa melenturkan jaringan kolagen kulit, di samping memicu hormon endorpin yang bisa mengurangi rasa nyeri.
""Nyeri di punggung akibat akibat pengumpulan asam laktat, bila asam laktat terurai, rasa nyeri berurang,"" katanya. "
- 1Toyota Akhirnya Pamer C-HR, Si Penantang Honda HR-V
- 2Lulusan SD Ini Raih Puluhan Juta dari Jual Boneka
- 3Ancaman Serangan Militer Suriah Dorong Harga Emas Naik
- 4Istaka Yakin Jalan Layang Casablanca Rampung Oktober
- 5Harga Minyak Jatuh Karena Kekhawatiran atas Suriah Berkurang
- 6Upah Minimum 2014 Mengacu Dewan Pengupahan





