News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi
Aplikasi Ini Bisa Prediksi Tindakan Bunuh Diri
Selasa,2013-07-09,09:59:22
(IANnews.id) "
(IANNnews) Jakarta - Tak sedikit kasus bunuh diri terungkap melalui situs jejaring sosial. Orang-orang yang ingin melakukan tindakan itu kerap mengungkapkan keputusasaannya lewat berbagai media sosial.
Kini, ada sebuah inisiatif baru untuk memprediksi tindakan bunuh diri di jejaring sosial. Bagaimana caranya?
Inisiatif itu hadir berupa aplikasi yang diberi nama Durkheim, menggunakan kecerdasan algoritma buatan untuk mengidentifikasi kata-kata maupun kalimat putus asa dan niat untuk bunuh diri.
Target proyek yang diluncurkan 2 Juli lalu itu adalah para veteran yang memiliki tingkat bunuh diri yang sangat tinggi. Para veteran diharapkan menginstal aplikasi Durkheim pada komputer, IOS, ataupun Android.
Nantinya, aplikasi ini akan melacak posting pengguna dan memasukkannya ke riwayat medis. Setelah itu, sebuah algoritma media akan memonitor data secara real time dan melihat pola-pola yang mempunyai potensi menyakiti diri sendiri.
Aplikasi Proyek Durkheim bisa disambungkan ke Facebook, Twitter, dan LinkedIn, sehingga dapat memonitor konten-konten pengguna di sejumlah jejaring sosial. Selain itu, sistem di dalam aplikasi sudah dijaga oleh firewall untuk menghindari peretas yang usil.
""Studi ini bekerja sama dengan beberapa mitra, mulai dari yang berbasis ilmu pengetahuan sampai para profesional di bidang kesehatan mental,"" kata Chris Poulin, peneliti utama Durkheim, dilansir Live Science, Selasa 9 Juli 2013.
Dia menambahkan, munculnya proyek ini berawal dari penelitian pada tahun 2011, yang menyatakan veteran perang lebih berpotensi melakukan bunuh diri dari para masyarakat biasa.
""Dari pembelajaran pola-pola, proyek Durkheim mampu membeberkan data berharga untuk melacak pengguna aktif jejaring sosial yang berencana untuk bunuh diri,"" ujar Poulin.
Dikritik
Aplikasi ini bukan tidak mendapat kritikan dari beberapa peneliti lainnya. Mereka beranggapan, tidak ada korelasi antara melakukan posting kata bunuh diri dengan melakukan tindakan bunuh diri.
""Tidak ada indikasi antara veteran yang memposting konten negatif dan kemudian melakukan tindakan bunuh diri,"" kata peneliti.
Tapi, Proyek Durkheim tetap memiliki tujuan mulia, yaitu mengurangi tindakan bunuh diri di kalangan para veteran.
Proyek Durkheim juga mempersilakan para profesional untuk ikut bergabung menyumbangkan ide-ide baru dalam upaya mencegah tindakan bunuh diri.
""Kami mengundang para profesional di bidang teknologi, kesehatan mental, dan lainnya, untuk terlibat dalam proyek ini, memberikan ide tentang status-status yang berisi kalimat-kalimat sedih akan memicu tindakan bunuh diri,"" kata Poulin. "
Kini, ada sebuah inisiatif baru untuk memprediksi tindakan bunuh diri di jejaring sosial. Bagaimana caranya?
Inisiatif itu hadir berupa aplikasi yang diberi nama Durkheim, menggunakan kecerdasan algoritma buatan untuk mengidentifikasi kata-kata maupun kalimat putus asa dan niat untuk bunuh diri.
Target proyek yang diluncurkan 2 Juli lalu itu adalah para veteran yang memiliki tingkat bunuh diri yang sangat tinggi. Para veteran diharapkan menginstal aplikasi Durkheim pada komputer, IOS, ataupun Android.
Nantinya, aplikasi ini akan melacak posting pengguna dan memasukkannya ke riwayat medis. Setelah itu, sebuah algoritma media akan memonitor data secara real time dan melihat pola-pola yang mempunyai potensi menyakiti diri sendiri.
Aplikasi Proyek Durkheim bisa disambungkan ke Facebook, Twitter, dan LinkedIn, sehingga dapat memonitor konten-konten pengguna di sejumlah jejaring sosial. Selain itu, sistem di dalam aplikasi sudah dijaga oleh firewall untuk menghindari peretas yang usil.
""Studi ini bekerja sama dengan beberapa mitra, mulai dari yang berbasis ilmu pengetahuan sampai para profesional di bidang kesehatan mental,"" kata Chris Poulin, peneliti utama Durkheim, dilansir Live Science, Selasa 9 Juli 2013.
Dia menambahkan, munculnya proyek ini berawal dari penelitian pada tahun 2011, yang menyatakan veteran perang lebih berpotensi melakukan bunuh diri dari para masyarakat biasa.
""Dari pembelajaran pola-pola, proyek Durkheim mampu membeberkan data berharga untuk melacak pengguna aktif jejaring sosial yang berencana untuk bunuh diri,"" ujar Poulin.
Dikritik
Aplikasi ini bukan tidak mendapat kritikan dari beberapa peneliti lainnya. Mereka beranggapan, tidak ada korelasi antara melakukan posting kata bunuh diri dengan melakukan tindakan bunuh diri.
""Tidak ada indikasi antara veteran yang memposting konten negatif dan kemudian melakukan tindakan bunuh diri,"" kata peneliti.
Tapi, Proyek Durkheim tetap memiliki tujuan mulia, yaitu mengurangi tindakan bunuh diri di kalangan para veteran.
Proyek Durkheim juga mempersilakan para profesional untuk ikut bergabung menyumbangkan ide-ide baru dalam upaya mencegah tindakan bunuh diri.
""Kami mengundang para profesional di bidang teknologi, kesehatan mental, dan lainnya, untuk terlibat dalam proyek ini, memberikan ide tentang status-status yang berisi kalimat-kalimat sedih akan memicu tindakan bunuh diri,"" kata Poulin. "
- 1Toyota Akhirnya Pamer C-HR, Si Penantang Honda HR-V
- 2Lulusan SD Ini Raih Puluhan Juta dari Jual Boneka
- 3Ancaman Serangan Militer Suriah Dorong Harga Emas Naik
- 4Istaka Yakin Jalan Layang Casablanca Rampung Oktober
- 5Harga Minyak Jatuh Karena Kekhawatiran atas Suriah Berkurang
- 6Upah Minimum 2014 Mengacu Dewan Pengupahan





