Indonesia Archipelago National Network - IANNnews.com

World



AS Kerahkan Intelijen Selidiki Senjata Kimia Suriah

Jumat,2013-08-23,03:00:39
(IANnews.id) "(IANNnews) Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat belum berani menyimpulkan apakah senjata kimia memang digunakan pada insiden di Ghouta, Suriah, atau tidak. Untuk mencari tahu, Presiden Barack Obama langsung memerintahkan intelijen mereka di luar negeri untuk menyelidikinya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat Jen Psaki, seperti dilansir Reuters, Kamis 22 Agustus 2013, mengatakan bahwa saat ini mereka belum bisa memastikan penggunaan senjata kimia. Tapi semua upaya akan dilakukan untuk mencari fakta. Termasuk salah satunya mengerahkan intelijen.

""Akan dikumpulkan informasi dari saksi-saksi di lapangan, yang berarti pekerjaan intelijen, laporan dari sumber terbuka, dan pengumpulan data ilmiah,"" kata Psaki yang menambahkan bahwa ini adalah tugas rumit, karena AS tidak punya hubungan diplomatik dengan Suriah.

Barack Obama tahun lalu telah memberikan batasan kesabaran AS atas Suriah, yaitu penggunaan senjata kimia atau biologis. Psaki mengatakan bahwa batasan itu sebenarnya telah dilanggar rezim Bashar al-Assad beberapa bulan lalu. Saat ini, ujarnya, pemerintah Obama tengah meninjau beberapa opsi untuk Suriah.

Mengerikan

Dia menolak memberitahukan opsi apa saja yang dimaksud. Tapi sebelumnya Juni lalu, AS telah memutuskan untuk memberikan bantuan militer bagi para pejuang Suriah yang telah lebih dari dua tahun melawan rezim Assad.

""Jika laporan ini benar, maka ini adalah peningkatan yang mengerikan dan keterlaluan dari pengunaan senjata kimia oleh rezim Assad, jadi fokus kami kali ini adalah mencari fakta,"" ujarnya.

Jumlah korban tewas tidak dapat dipastikan. Namun Fahad Almasri, juru bicara kelompok pejuang Tentara Pembebasan Suriah mengatakan bahwa pasukan mereka di Damaskus mendata ada 1.729 orang tewas. Sebanyak 6.000 warga menghisap gas beracun dan mengalami gangguan pernafasan. Korban juga masih terus ditemukan hingga kini.

Menteri Amerika Serikat John Kerry telah melakukan pertemuan dengan Menlu-menlu Eropa dan Timur Tengah untuk membicarakan langkah yang tepat. AS adalah satu dari 36 negara yang mendesak PBB untuk segera mengirim tim penyidik ke Ghouta."
Lihat Juga Lowongan Kerja Terbaru:
jobs-to-success
GFS
REAFO
REAFO