News Update
- Bali Mau Dibuka, Sandiaga Tampung Usulan Pelaku Wisata
- Potret Jembatan Kaca Tak Biasa di China
- Kota Ini Lekat dengan Tukang Sayur Bermotor CBR-Ninja 250
- Ini Cara Perbaiki Kualitas Tidur Tanpa Konsumsi Obat
- 5 Makanan dan Minuman yang Tak Disarankan untuk Pengidap Bipolar
- Unik, Ada Masjid Full Color di Tengah Perkampungan Garut
- Melihat Mesin Pencetak Uang Kuno di Galeri Museum Peruri
- Bangkit Lagi, Hotel Bandung dan Saung Angklung Udjo Lakukan Kolaborasi

(IANnews.id) Jakarta - Narkotika jenis CC4 memiliki efek yang sangat berbahaya bagi pemakainya.
"Pengaruhnya sangat berat, bisa menyebabkan pemakainya bunuh diri," kata Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Budi Waseso, di Jakarta, Selasa.
CC4 tergolong narkotika golongan I. Pemakaian CC4, menurut Waseso, akan berefek halusinasi pada pemakainya. Dalam masa pemakaian yang panjang, pemakai bisa mengalami depresi berat dan menyebabkan bunuh diri.
Ia menjelaskan CC4 berbentuk seperti perangko. Kendati demikian, pengaruhnya jauh lebih kuat bila dibandingkan dengan ekstasi.
CC4 merupakan salah satu barbuk yang ditemukan di pabrik narkoba milik terpidana mati kasus narkoba Freddy Budiman.
Sebelumnya Freddy Budiman dibonpinjamkan dari Lapas Kelas 1 Batu, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, ke Jakarta untuk diperiksa di Mabes Polri.
Meski berada dalam tahanan, Freddy diketahui menjadi pengendali dalam jaringan narkoba internasional.
Atas keterangan tersangka Freddy, Bareskrim Polri pun berhasil membongkar pabrik narkoba milik pria 38 tahun itu yang berlokasi di Ruko CBD Mutiara, Taman Palem, Cengkareng, Jakbar.
Dari ruko tersebut disita barang bukti berupa 50 ribu butir ekstasi yang diduga dari Belanda, 800 gram sabu dari Pakistan, 122 lembar narkotika berbentuk perangko (CC4) dari Belgia, 20 telepon seluler, satu buah mesin cetak ekstasi, 25 kilogram bahan baku ekstasi, satu kg bahan pewarna dan 10 kg bahan pelarut.
Freddy tidak bekerja sendiri. Ia bekerja sama dengan 11 tersangka lainnya yakni Yanto, Aries, Latif, Gimo, Asun, Henny, Riski, Hadi, Kimung, Andre dan Asiong. Mereka sudah diamankan polisi.
Andre diketahui merupakan penghuni Lapas Cipinang, Jaktim. Sementara Asiong merupakan tahanan Rutan Kelas I Jakpus.
"Jaringan ini dikendalikan dari rutan," katanya.
Sementara seorang WN Belanda bernama Laosan alias Boncel masih dalam pengejaran.
"Pengaruhnya sangat berat, bisa menyebabkan pemakainya bunuh diri," kata Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Budi Waseso, di Jakarta, Selasa.
CC4 tergolong narkotika golongan I. Pemakaian CC4, menurut Waseso, akan berefek halusinasi pada pemakainya. Dalam masa pemakaian yang panjang, pemakai bisa mengalami depresi berat dan menyebabkan bunuh diri.
Ia menjelaskan CC4 berbentuk seperti perangko. Kendati demikian, pengaruhnya jauh lebih kuat bila dibandingkan dengan ekstasi.
CC4 merupakan salah satu barbuk yang ditemukan di pabrik narkoba milik terpidana mati kasus narkoba Freddy Budiman.
Sebelumnya Freddy Budiman dibonpinjamkan dari Lapas Kelas 1 Batu, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, ke Jakarta untuk diperiksa di Mabes Polri.
Meski berada dalam tahanan, Freddy diketahui menjadi pengendali dalam jaringan narkoba internasional.
Atas keterangan tersangka Freddy, Bareskrim Polri pun berhasil membongkar pabrik narkoba milik pria 38 tahun itu yang berlokasi di Ruko CBD Mutiara, Taman Palem, Cengkareng, Jakbar.
Dari ruko tersebut disita barang bukti berupa 50 ribu butir ekstasi yang diduga dari Belanda, 800 gram sabu dari Pakistan, 122 lembar narkotika berbentuk perangko (CC4) dari Belgia, 20 telepon seluler, satu buah mesin cetak ekstasi, 25 kilogram bahan baku ekstasi, satu kg bahan pewarna dan 10 kg bahan pelarut.
Freddy tidak bekerja sendiri. Ia bekerja sama dengan 11 tersangka lainnya yakni Yanto, Aries, Latif, Gimo, Asun, Henny, Riski, Hadi, Kimung, Andre dan Asiong. Mereka sudah diamankan polisi.
Andre diketahui merupakan penghuni Lapas Cipinang, Jaktim. Sementara Asiong merupakan tahanan Rutan Kelas I Jakpus.
"Jaringan ini dikendalikan dari rutan," katanya.
Sementara seorang WN Belanda bernama Laosan alias Boncel masih dalam pengejaran.
- 1Sekolah Indonesia di Kuala Lumpur doa bersama jelang UN
- 2Festival "kue bulan" hadir di Jakarta
- 3BI: masyarakat jangan panik berlebihan terhadap pelemahan rupiah
- 4Pemprov DKI suntik modal Jakpro Rp7,7 triliun
- 5PT MRT: mesin bor terowongan tiba di Jakarta
- 6Sys NS sarankan SBY berkiprah di tingkat internasional





